Tradisi Sejarah pada Masyarakat Setelah Mengenal Tulisan

| Senin, 11 Februari 2013

Tradisi Sejarah pada Masyarakat Setelah Mengenal Tulisan


Salah satu ciri penanda yang membedakan periode sejarah dengan periode prasejarah adalah ditemukannya tradisi tulis. Mengapa? Kamu tentu ingat bahwa unsur pokok penelitian dan penulisan sejarah adalah dokumen atau sumber tertulis. Nah, dengan mengenal tradisi tulis itu, orang akan merekam berbagai peristiwa yang ia alami ke dalam beragam bentuk media. Dari sinilah proses pewarisan pengalaman (pengetahuan) bisa dilakukan kepada generasi penerusnya. Bahkan, dari situ pulalah sejarawan bisa mengungkap kehidupan di masa lalu.
Untuk mengungkap tradisi sejarah yang ada pada masyarakat di berbagai daerah, bisa dimulai dengan melacak tradisi tulisnya. Secara sederhana berikut akan kita identifikasi bersama.
a. Tradisi Sejarah pada Masyarakat di Berbagai Daerah
Keragaman budaya bangsa Indonesia telah kamu ketahui. Salah satu bentuk keragaman itu berasal dari kekayaan linguistik. Ratusan bahasa dengan bermacam corak bisa kamu temukan di Indonesia. Bahkan di antaranya yang memiliki tradisi naskah dan aksara sendiri, serta alat-alat tulis dan media tersendiri.
Di bawah ini contoh tradisi tulis dari beberapa daerah di Indonesia.
1. Tradisi Tulis di Jawa
Karya yang paling populer dari tradisi tulis di Jawa adalah kakawin, yaitu puisi yang aturan sajaknya didasarkan pada persajakan Sanskerta. Kakawin yang paling monumental adalah Kakawin Ramayana. Selain terpanjang (dengan 2.770 bait), kakawin ini juga terlengkap dan terawat baik hingga kini.
Pada zaman Majapahit, Mpu Prapanca menulis Kakawin Ncgarakorlcigama talnin 1365. Teks ini menggambarkan kehidupan zaman itu di Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Rajasanagara, tentang wilayahnya, pedesaan yang biasa dikunjungi raja, dan lain-lain, sehingga kakawin itu judulnya Desawarnana (Gambaran Desa). Dengan kakawin inilah, kita bisa menemu-kan sumber sejarah apabila ingin menulis sejarah sosial dan politik di Jawa abad XIII-XIV.
2. Tradisi Tulis di Bali
Tradisi tulis tertua di Bali berasal dari titah kerajaan pada akhir abad IX serta prasasti pada lempeng tembaga dan batu. Dalam perkembangannya, kesusastraan Bali ditulis pada lontar.
Berikutnya, tradisi tulis di Bali banyak dipengaruhi oleh budaya Jawa. Sampai dengan abad XVI, kesusastraan Bali didasar-kan atas cerita kepahlawanan India Ramayana dan Mahabharata. Berbagai tulisan tentang agama dan sejarah dialihkan ke Bali. Bahkan, saat di Jawa tradisi itn telah menghilang, di Bali kini masih ditemnkan tradisi mabasan yaitu pembacaan dan penerjemahan syair-syair Jawa Kuno ke dalam bahasa Bali.
Mulai abad XVI, orang Bali menciptakan tradisi tulis sendiri dengan bahasa Bali, dengan susunan metrum yang sederhana. Misalnya kidung, gita, geguritan atsivi parikan. Teksnya antara lain berisi tentang keindahan alam, ratu, persatuan dengan dewa (untuk menobatkan raja), dan lain-lain. Teks tersebut ditulis pada lontar untuk dinyanyikan di istana.
Di Bali, Setiap naskah memiliki dewi pelindung yaitu Saraswati (istri Dewa Brahma). Saat hari peringatannya, semua naskah dikeluarkan dan dipamerkan di bangsal, dibersihkan dengan air suci oleh pedanda yang memimpm Puja Saraswati.
3. Tradisi Tulis di Sumatra Selatan
Bukti tertua tradisi tertulis di daerah ini berasal dari prasasti batu Melayu pada akhir abad VII. Meskipun sempat terpengaruh model Pallawa India, dalam perkembangannya terdapat model tersendiri. Huruf-huruf Pallawa dan Jawa yang cenderung menggunakan garis melengkung, diganti menjadi bentuk bersudut. Penyebabnya adalah adanya penyesuaian dengan bidang atau alas tulis yang berasal dari bambu dan tanduk.
Aksara Sumatra Selatan dibedakan menjadi tiga kelompok besar.* Peiianid, aksara Kcrinci yang digunakan sampai abad XIX. Pada awal abad ini, orang sudah berhasil membaca dan menguraikan arti sebuah teks. Kedua, aksara Melayu Pertengahan atau aksara rencong Rejang. Ketiga, aksara Lampung dengan banyak ragam. Kebanyakan, teks itu berisi cerita ke-pahlawanan tradisional, hukum, silsilah (surat resmi untuk mengesahkan hak kepemilikan tanah tradisional), syair rnistik Islam, mantra, obat-obatan, dan lain-lain. Teks-teks itu ditulis pada gelumpai (lembar bambu), kulit kayu, dan gulungan kertas.
4. Tradisi Tulis Sunda
Kamu tentu ingat dengan beragam prasasti yang dikelnarkan pada masa Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Dari prasasti-prasasti yang ditulis dengan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa pada abad V itulah tradisi tulis Sunda dimulai. Hingga abad XVI, beragam prasasti ditemukan dengan menggunakan bahasa Melayu Kuna, Jawa Kuna, dan Sunda Kuna. Isinya rata-rata tentang titah raja, maklumat, serta peringatan peristiwa bersejarah.
Selanjutnya, tradisi tulis itu berkembang dalam bentuk naskah. Media yang digunakan adalah daun palem, bambu, dan kertas. Aksara yang dipakai adalah Sunda Kuna, Sunda Jawa (Cacarakan), Arab (pegon), dan Latin. Naskah-naskah itu, antara lain ditemukan di Kabuyutan yaitu pusat kegiatan agama yang menjadi pusat kegiatan intelektual. Naskah itu antara lain Kunjarakarna, Sanghiyang Hayu, Sanghiyang Siksakandang Karesian, Amanat dari Galunggung, Sewaka Darma, Carita Parahiyangan, Bujangga Manik, dan Pantun Ramayana.
Setelah pengaruh Islam masuk di daerah ini, bahasa dan aksara Arab juga masuk dalam penulis-an naskah. Misalnya dalam Carita Parahiyangan. Selain itu, juga menyalin karya-karya pada teks Melayu seperti Carita Perang Istambul (Sejarah Perang Istambul), dan Wawacan Ningrum Kusumah (Cerita Ningrum Kusumah). Wawacan adalah cerita dalam bentuk syair yang bukan hanya dibaca namun juga untuk dinyanyikan.
5. Tradisi Tulis di Sulawesi
Suku bangsa yang ada di Sulawesi dan mempunyai tradisi tulis sangat 'kuat berasal dari suku bangsa Bugis, Makassar, dan Mandar. Mereka mempunyai ragam kesusastraan yang lengkap karena memiliki bahasa dan adat kebiasaan yang berbeda-beda. Dari orang Mandar, dikenal pappasang yaitu tulisan tentang kebiasaan setempat dan pengajaran adat, kalindaqdaq yaitu kumpulan syair empat baris, serta tilapayo yaitu lagu cinta tradisional.
Tradisi tulis orang Makassar lebih lengkap lagi, bahkan mempunyai relevansi dengan penulisan sejarah. Misalnya patturioloang (sejarah) kerajaan Makassar, Goa-Tallo. Lontarq bilang atau catatan harian, rampang atau tulisan tentang peraturan adat, rupama yaitu bermacam kisah yang-menghibur, dan sinrilig yaitu tulisan yang bersifat sejarah kepahlawanan. Ada pula elang malliung bettuana atau nyanyian dengan makna tersembunyi yaitu sejenis teka-teki tradisional.
Yang fenomenal dari tradisi tulis di Sulawesi berasal dari orang Bugis. Karya sastra Bugis termasuk yang terbaik dari segi mutu dan jumlah di Asia Tenggara. Tulisan-tulisan mereka mengedepankan objektivitas dan sangat peduli kepada fakta. Satu di antaranya adalah La Galigo yaitu mite kepahlawanan Bugis yang diperkirakan berjumlah 6.000 halaman. Mungkin ini karya sastra tertebal di dunia, berisi beragam peristiwa yang terjadi di Luwu pada masa pra-Islam (sekitar abad XIV). Selain itu, karya mereka yang merupakan teks historiografi terpenting adalah attoriolong (kronik), lontaraq bilang (catatan harian), lontaraq pangngoriseng (silsilah), serta toloq yaitu syair sejarah kepahlawanan yang merupakan gabungan unsur-unsur, teks historiografi dengan teks mirip galigo. Tulisan toloq biasanya sangat panjang (ratusan halaman) dan menceritakan sebnah peristiwa bersejarah dengan puitis.
Itulah serangkaian bukti bahwa dengan mempunyai kemampnan menulis, beragam aktivitas dan peristiwa yang dialami mannsia bisa terdokumentasikan ke dalam berbagai bentuk. Dari dokumen-dokumen yang tersisa itulah, penelitian dan penulisan sejarah bisa dilakukan. Akibat beragamnya bahasa dari adat kebiasaan yang dipakai oleh berbagai suku bangsa, beragam pula bentuk dokumen yang dihasilkan. Dengan langkah-langkah penelitian sejarah yang telah kamu pelajari di depan, kamu bisa mengungkap tradisi sejarah yang ada pada suatu masyarakat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Next Prev
▲Top▲